Mengenal 8 Imam Diosesan Baru KAS

Ke depan altar aku melangkah, seraya bermadah gembira ria. Saat bahagia hari yang mulia, hari yang penuh kenangan ….” Terlantun lagu pengiring perarakan panjang lelaki berjubah putih memasuki Kapel Seminari Tinggi St. Paulus Kentungan. Di barisan paling akhir perarakan, tampak lelaki berkumis memakai jubah putih megah memakai tutup kepala dan membawa tongkat dengan tangan kiri. Perakan itu menandakan dimulainya Misa Tahbisan Imamat KAS.

Di hari Selasa (25/07/17) bertepatan dengan Pesta St. Yakobus Rasul, delapan diakon menerima Sakramen Tahbisan Imam dari tangan Mgr. Robertus Rubiyatmoko. Kini KAS mempunyai delapan Imam Diosesan Baru. Sebagai umat, kita patut berbahagia karena benih panggilan di KAS masih terbilang subur setelah dalam waktu 45 hari kehilangan 3 Imam, ibarat pepatah Mati Satu Tumbuh Seribu.

WhatsApp Image 2017-07-25 at 12.50.19 PM
Sumber: Arsip Pribadi

Siapa saja mereka, simak profil singkat delapan Imam Diosesan baru KAS.

1. Rm. Emmanuel Graha Lisanta, Pr.

2

Nama Panggilan  : Romo Graha

Tempat, tgl lahir  : Sleman, 31 Desember 1989

Asal Paroki           : Paroki St. Aloysius Gonzaga Mlati

Alamat                   : Jl. Sambisari, Kebonagung RT 003/RW

31  Tridadi, Sleman.

Nama Ortu           : Antonius Yudhi Sulistyo – Yuliana Suwarni

Pengalaman panggilan Romo Graha bermula dari suatu peristiwa tatkala berdoa sambil memandang wajah Yesus yang ada di salib besar di belakang altar sebelum memulai Ekaristi Sabtu sore.“…saya seolah melihat Yesus menoleh ke arah saya dan ada suara, “Ikutlah Aku!”, Saya Kaget. Ada perasaan takut, bingung, sekaligus takjub. Mana mungkin patung Yesus itu bisa bergerak dan berkata-kata? Saya kembali kaget ketika dalam Ekaristi sore itu dibacakan kisah tentang Yesus yang memenggil Matius si pemungut cukai untuk menjadi murid-Nya. Di sana saya menemukan kata-kata Yesus: “Ikutlah Aku!” (Mat 9:9). Spontan muncul pertanyaan, Apakah Tuhan memanggil saya untuk menjadi imam?” Rupanya pertanyaan itu mengantarkan Romo Graha menjadi Imam Baru di KAS.

2. Rm. Martinus Sutomo, Pr.

3

Nama Panggilan   : Romo Tomo

Tanggal lahir         : 19 November 1981.

Alamat                    : Sidomulyo RT 002/RW 005, Beluk, Bayat,

Klaten, Jawa Tengah.

Nama Ortu            : Paulus Supadi – Margaretha Tumirah

Panggilan menjadi imam tumbuh dari sapaan Ibu C. Mariati (Bu Mur), salah satu guru Romo saat SMP, “Le, mbok kowe suk yen gedhe dadi romo?”Romo menjawab dengan jawaban asal ”Nggih” sambil menganggukkan kepala yang saat itu hanya sebatas basa-basi. Sapaan tersebut terus membayang-bayangi Romo Tomo sampai lulus SMK, bekerja, mendapat penolakan masuk Seminari Mertoyudan, kembali bekerja, masuk Seminari Tahun Orientasi Rohani dan menjalani masa-masa menjadi seminaris hingga ditahbiskan menjadi Romo.

3. Rm. Markus Januharta, Pr.

Rm. Nanung

Nama Panggilan    : Romo Nanung

Tempat, tggl lahir  : Yogyakarta, 25 April 1977.

Alamat                      : Jl. P. Senopati, No. 25 Yogyakarta

Nama Ortu               : Aloysius Haryadi (Alm) – Dra. R. Ay. Yohana

Ani Martanti MBA (Alm).

Benih panggilan muncul setelah Romo Nanung melanglang buana kuliah di Arsitektur Atmajaya Yogyakarta, dan melanjutkan studi di Universitas Gajah Mada Yogyakarta. Banyak kebanggaan duniawi berhasil diraih yang menurutnya hanya kosong belaka. Romo Nanung menggambarkan dirinya sebagai “Si Kertas Kusut”. Banyak tulisan dan gambar membanggakan yang ditorehkan dalam dirinya namun hanya kebanggaan kosong yang berkali-kali dihapus hingga tertoreh tulisan dan gambar tentang kasih Kristus yang mengagumkan dan menghantarkan menjadi seorang Imam.

4. Rm. Ig. Adi Sapto Wibowo

5a

Nama Panggilan    : Romo Adi Sapto

Tempat, tggl lahir  : Semarang, 21 September 1987

Alamat                     : Jl. Pekunden Tengah 1037 Semarang

Asal Paroki             : Gereja SPM Ratu Rosario Suci Katedral Randusari

Nama Ortu             : (Alm) Fx. Soetrisno Hadi S – (Alm) Maria Sri Sukani

 

Sebagai anak bungsu dari tujuh bersaudara, saat kecil Romo berharap menjadi tentara nan gagah berani atau dokter nan lembut dan ganteng. Namun anehnya, setiap ditanya mengenai cita-cita oleh siapapun, Romo Adi (dulu) selalu menjawab “Pengen dadi Paus”. Awal cita-citanya dibuktikan dengan mejadi Imam. Selamat berkarya Romo, semoga cita-citanya kelak dijamah Tuhan.

5. Rm. Laurentius Andika Bhayangkara, Pr.

Nama Panggilan    : Romo DikaRm Dika

Tempat, tggl lahir  : Ungaran, 11 Juni 1978

Alamat                     : Jl. Cempaka I/9 Gowogan, Ungaran 50512

Paroki                      : Kristus Raja Ungaran

Nama Ortu             : Ignatius Sudirjo – Irene Agnes Sri Rahayu

Anak ke-6 dari tujuh bersaudara ini mempersembahkan diri menjadi Imam sebagai wujud syukur atas kasih dan penyertaan Allah dalam hidup. Doa memohon kasih karunia Allah untuk menyelamatkan Bapak dari kecelakaan dan juga kakak Ipar dari kecelakaan yang terjadi berikutnya dikabulkan Allah dan semua memperoleh kesembuhan. Dalam doa itu pula, janji akan membalas kebaikan-Nya senantiasa dipanjatkan. “Aku akan membayar nazarku kepada Tuhan di depan seluruh umat-Nya” (Mzm 116) menjadi kesadaran untuk memenuhi janji yang terucap tahun 2003 dan 2007 hingga mengantarkan menjadi Romo.

7

6. Rm. Hieronymus Rony Suryo Nugroho, Pr.

Nama panggilan     : Romo Rony

Tempat, Tgl Lahir  : Kulon Progo, 4 Februari 1990

Asal Paroki              : Santa Theresia Lisieux Boro

Nama Ortu              : Ambrosius Suparjana Hendrasiswoyo–

Maria Regina Muryanti

Panggilan menjadi imam berawal dari masa kecil yang suka berkunjung di ruang rekreasi pastoran yang saat itu terdapat TV, koran, dan kipas angin. Sosok romo di paroki yang bersahabat, menyenangkan, ramah, dan membuat nyaman menginspirasi Romo Rony untuk dekat dengan Gereja, masuk seminari, dan menjadi Imam.

7. Rm Yohanes Wahyu Rusmana, Pr

3

Nama Panggilan     : Romo Jojo

Tempat tggl lahir    : Yogyakarta, 7 Oktober 1988

Nama Orangtua      : Paiman – Lucia Suwuh

Pengalaman kuat Romo Jojo yang mendorong menjadi imam adalah melihat dan keterlibatan dalam kunjungan beberapa imam kepada umat dan keterlibatan dalam tugas misdinar. Keinginannya semakin lama semakin kuat hingga membawa ke perjalanan pendidikan seminaris dan kini menjadi Romo KAS.

3

8. Rm. Ambrosius Heri Krismawanto, Pr

Nama Panggilan   : Romo Heri

Tempat tggl lahir   : Bantul, 8 Desember 1987

Nama Orang tua    : Gomarus Heru Sutrisno  – Maria Dominika

Iswanti

Panggilan menjadi imam hadir melalui sapaan Tuhan melalui keluarga. Bapak sangat aktif di Gereja dan masyarakat. Ibu, seorang sederhana dan sabar. Adik yang pertama meninggal, namun adik kedua yang lahir saat masuk menjadi seminaris menjadi kegembiraan bagi keluarga. Panggilan semakin kuat ketika waktu kecil ada Romo berambut Gondrong menyapa dengan sederhana, “Besok kalau sudah gedhe jadi Romo ya…” Romo Heri melanjutkan SMA di Seminari Mertoyudan dan menempuh pendidikan seminaris dan kini menjadi Romo.

 

Kisah perjalanan panggilan kedelapan romo diungkapkan dalam Motto “Kecaplah betapa sedapnya Tuhan” (Mzm 34:9). Profisiat dan Selamat berkarya Romo.

 

Sumber:

Kotbah Mgr. Robertus Rubiyatmoko dalam Misa Tahbisan 8 Imam KAS

Seminari Tinggi St. Paulus. (2017). “Ketika Tuhan Memanggil”. Yogyakarta: Penerbit PT Percetakan   Kanisius.

Sumber Foto:

https://www.facebook.com/rony.s.nugroho.9/photos?lst=1642346985%3A100000153067523%3A1501061134&source_ref=pb_friends_tl

https://www.facebook.com/emmanuel.grahalisanta/photos?lst=1642346985%3A100001357812360%3A1501062285&source_ref=pb_friends_tl

 

Bincang Hangat Komite dan Kepsek Baru TK-SDKB

Kulanuwun, itulah yang disampaikan E. Sulistya Asmara, S.Pd. (kepala sekolah baru) ketika mengawali sambutannya saat rapat komite dengan komunitas TK-SDK Bonoharjo (23/7) petang. Rapat yang berlangsung di ruang kelas 1 dan 2 ini berlangsung hangat dan diikuti pula oleh para guru. Selain bercerita tentang pengalaman di tempat kerja sebelumnya (SDK Nanggulan), kepala sekolah juga menyampaikan kebijakan tetap 6 hari sekolah, rencana kegiatan sekolah tahun ajaran 2017-2018, dan berbagai harapan proses pendidikan di Bonoharjo. Banyak kegiatan untuk memupuk iman anak yang telah diagendakan, diantaranya adalah misa awal tahun ajaran, membaca kitab suci setiap kelas, kegiatan adven, natalan dan paskahan bersama, rekoleksi, ziarah, doa rosario, dan lain-lain.

Suasana bincang-bincang Kepsek SDKB dengan guru dan komite (dok. Suyono)

Disampaikan pula bahwa pada tahun ajaran baru ini murid Playgroup St. Theresia Lisieux berjumlah 16 anak (masih ada 1 anak yang kemungkinan akan mendaftar lagi). Pada jenjang TK terdapat 35 anak dan SD sebanyak 89 anak. Mengenai jumlah tersebut, Sulistya yang juga seorang penulis Buku Bahasa Jawa SD (Ayo Sinau Basa lan Budaya Jawa), menargetkan bahwa ke depan jumlah murid SDKB harus bisa melebihi 100 anak.

Komite juga berharap agar berbagai pengalaman kepala sekolah dari tempat kerja sebelumnya, misalnya di bidang kebudayaan/kerawitan, bisa diterapkan di SDKB. Penajaman programasi visioner dan transparasi manajemen sekolah perlu selalu dibangun. Semoga Stasi Bonoharjo makin menjadi pusat pendidikan yang unggul dan terpercaya!

Surat Gembala KAS Menyambut AYD 2017

Pada Ekaristi Sabtu (15/7) petang di Gereja Maria Mater Dei Bonoharjo,  Romo Paulus Susanto, Pr. membacakan Surat Gembala dari Mgr. Robertus Rubiyatmoko dalam rangka menyambut Asian Youth Day (AYD) ke-7 yang puncaknya akan dilaksanakan di Yogyakarta (2-6/8). Dalam kotbahnya, Romo Santo juga menambahkan agar kita proaktif dalam menyambut dan menyukseskan AYD 2017.  Berikut isi dari Surat Gembala tersebut:

 

Ajakan Menyongsong “ASIAN YOUTH DAY VII” di Keuskupan Agung Semarang

(Disampaikan pada hari Sabtu/Minggu, 15/16 Juli 2017)

 

Para Rama, Bruder, Suster, Frater dan Saudara-saudari, seluruh umat katolik di Keuskupan Agung Semarang yang terkasih. Berkah Dalem. Bagaimana kabar Anda? Semoga selalu dalam keadaan sukacita dan berpengharapan.

Pada tanggal 2 sampai dengan 6 Agustus 2017 nanti, kita akan menjadi tuan rumah untuk peristiwa besar dan bersejarah, yaitu AYD atau “Asian Youth Day” ke-tujuh (Hari Orang Muda Asia Ke-7). Sebelumnya, yakni tanggal 30 Juli sampai dengan 2 Agustus 2017, para peserta AYD akan live in atau tinggal bersama umat di 11 keuskupan di Indonesia. Setelah AYD, yaitu tanggal 6-9 Agustus 2017, para pembina orang muda Asia masih akan melanjutkan pertemuan di Pusat Pastoral Sajaya Muntilan.

Dalam rangka menyambut AYD ke-7 ini, paroki-paroki, kampus-kampus, dan komunitas-komunitas, sudah menggelar estafet salib AYD dan menggerakkan umat dengan berbagai kegiatan. Sekarang, tibalah saat puncak, yaitu berkumpulnya 2000 (dua ribu) orang muda Katolik di Keuskupan Agung Semarang, khususnya di kota Yogyakarta. Mereka berasal dari 19 negara se-Asia, termasuk Indonesia. Akan hadir pula para Uskup dari negara-negara Asia, termasuk para Uskup seluruh Indonesia.

Menghadapi peristiwa tersebut, selain mempersiapkan diri menjadi tuan rumah yang baik, kita juga menyadari betapa Tuhan mencintai dan memiliki rencana yang indah. Kita dipercaya menjadi tuan rumah “Asian Youth Day” ketujuh, tepat setelah kita mencanangkan “Rencana Induk Keuskupan Agung Semarang 2016-2035”. Kenyataan ini membuat kita merenung sejenak. Mengapa Tuhan mempercayakan AYD ke-7 ini kepada kita? Salah satu jawabannya ialah, bahwa Tuhan ingin kita melaksanakan RIKAS 2016-2035 dengan lebih serius, yaitu dengan lebih memberikan kepercayaan kepada orang muda, sebagai generasi pengemban tanggung jawab perkembangan Gereja.

Dalam pemikiran seperti ini, “Asian Youth Day” ketujuh menjadi anugerah yang besar bagi Gereja Keuskupan Agung Semarang. Dengan “Asian Youth Day” ketujuh ini, Tuhan mau menyemangati kita agar menjadi Gereja yang bermasa depan cerah. Mau tidak mau, sebagai ungkapan syukur atas masa depan yang cerah itu, kita mesti menaruh kepercayaan besar kepada generasi muda. Kita mempersiapkan orang-orang muda ini mulai sekarang, agar mereka mengalami pembinaan yang berjenjang dan berkelanjutan sehingga mereka bergembira untuk menyambut estafet tanggungjawab perutusan.

Sebagaimana Injil hari ini, kita hendaknya menjadi tanah yang subur bagi pertumbuhan Gereja dengan cara membina generasi muda. Oleh karena itu, pada kesempatan ini saya mengajak para imam dan para orang tua pengemban tanggungjawab Gereja, agar bekerja sama dengan orang-orang muda. Bersama orang muda, kita kembangkan aneka bentuk perutusan yang sesuai dengan amanat RIKAS demi terwujudnya masyarakat yang memiliki budaya kasih. Hal ini cocok sekali dengan tema AYD ke-7: “Joyful Asian Youth! Living the Gospel in Multicultural Asia” (Orang muda Asia yang penuh sukacita menghidupi Injil di Asia yang memiliki aneka budaya). Suka cita Injil hendaknya mengobarkan hati dan budi kita, agar kita lebih mengasihi budaya dan pergaulan kita di tengah masyarakat yang majemuk ini.

Akhirnya saya mengajak para Rama, Bruder, Suster, Frater dan Saudara-saudari, seluruh umat katolik di Keuskupan Agung Semarang, untuk mendoakan dan mendukung sepenuhnya “Asian Youth Day” ketujuh, dengan antara lain berpartisipasi dalam Misa Akbar AYD pada tanggal 6 Agustus 2017 di Lapangan Adisucipto Yogyakarta. Semoga AYD ke-7 ini menjadi bagian dari rencana Tuhan yang indah bagi keuskupan kita. Mari bersemangat dan bersuka cita, karena Tuhan mengasihi kita. Berkah Dalem.

 

Semarang, 7 Juli 2017

† Robertus Rubiyatmoko
Uskup Agung Semarang

 

 

 

Ingin tahu lebih banyak tentang event dahsyat itu?

http://asianyouthday.org/

 

FKT Go Internasional

FKT (Festival Kesenian Tradisional) OMK Rayon Kulon Progo plus akan segera digelar di Bonoharjo (4/8). Kegiatan tahunan yang dimulai sejak tahun 2009 ini merupakan wadah kegiatan orang muda yang peduli dan berkehendak nguri-uri tradisi melalui seni budaya. FKT kali ini dilaksanakan di Lapangan Demangrejo (700 m selatan Gereja Maria Mater Dei Bonoharjo).

Gladi para penampil FKT dari Bonoharjo yang dilatih oleh Mbak Tia dari Sanggar Tari Timbang Dolan

Ada yang berbeda dari FKT ke-9 ini. FKT kali ini bersamaan dengan kegiatan AYD (Asian Youth Day) yang diselenggarakan di Yogyakarta (Days in AYD’s Venue) pada 30 Juli-6 Agustus 2017. AYD ke-7 ini mengusung tema “Joyful Asian Youth! Living the Gospel in Multicultural Asia.” Hari orang muda asia ini merupakan wadah perjumpaan orang muda Katolik se-Asia yang diselenggarakan tiap tiga tahunan. Acara ini dihadiri kurang lebih seribu sampai tiga ribu OMK perwakilan dari berbagai negara di Asia. Akan hadir pula sekitar 52 Uskup dan 53 kelompok eksposure (kegiatan peserta untuk melihat langsung pengalaman iman umat).

FKT di Bonoharjo akan dihadiri oleh beberapa peserta AYD, diantaranya adalah empat orang Uskup dan lima kelompok eksposure. Menurut salah satu panitia AYD, CB Prasetyo, keempat Uskup tersebut adalah Mgr. Martinus Dogma Situmorang, O.F.M. Cap. (Keuskupan Sufragan Padang, Sumatera Barat), Mgr. Edmund Woga, C.Ss.R. (Keuskupan Sufragan Weetebula, Nusa Tenggara Timur), Mgr. Lawrence Subrota Howlader, C.S.C. (Keuskupan Barisal, Bangladesh), dan Mgr. Buenaventura Malayo Famadico, D.D. (Keuskupan San Pablo, Filipina).

Timbunan tanah uruk di Lapangan Demangrejo

Gayung pun bersambut.  Sejak awal, Pemerintah Desa Demangrejo menyambut baik acara budaya tersebut. Program desa, pengurukan lapangan Demangrejo, sinergi dengan kebutuhan FKT. Kondisi permukaan lapangan desa yang biasa berlubang-lubang saat kemarau, akan segera diuruk rata. “Sebelum awal bulan depan, sudah akan ada 150 rit tanah uruk”, kata Eko Prasetyo, salah satu yang mendapat tender pengurukan tersebut. Menurut L. Budi Maryanto, Kepala Urusan Perencanaan dan Keuangan Desa Demangrejo, anggaran yang dikucurkan untuk pengurukan sebesar Rp52.867.000 (termasuk sewa alat berat). Biaya tersebut berasal dari APBDes Demangrejo tahun anggaran 2017 dengan sumber dana Alokasi Dana Desa (ADD).

 

Catatan istilah Keuskupan Sufragan

Suatu keuskupan agung juga disebut tahta metropolit atau keuskupan “pemimpin” dari suatu propinsi gerejawi. Sebagai contoh, Keuskupan Agung Semarang adalah tahta metropolit dari Propinsi Semarang, yang meliputi Keuskupan Agung Semarang sendiri dan keuskupan-keuskupan sufragan: Surabaya, Malang, dan Purwokerto. (Istilah sufragan menunjuk pada keuskupan-keuskupan dari suatu propinsi gerejawi di bawah kepemimpinan Keuskupan Agung). Tujuan dari dibentuknya suatu propinsi gerejawi yang demikian adalah untuk memupuk kerjasama dan usaha pastoral bersama di wilayah (Kitab Hukum Kanonik, No 434). (Sumber: http://www.indocell.net)
     Keuskupan Padang adalah keuskupan sufragan pada Provinsi Gerejani Keuskupan Agung Medan
     Keuskupan Weetebula adalah keuskupan sufragan pada Provinsi Gerejani Keuskupan Agung Kupang 

Pisah Sambut Kepala SD Kanisius Bonoharjo

Foto bersama guru TK-SDK Bonoharjo dengan Bu Endah (enam dari kiri) dan Pak Sulis (tujuh dari kiri)

Jumat (14/7) pukul 10.00 di SDK Bonoharjo dilaksanakan acara serah terima jabatan dilanjutkan pisah sambut Kepala SDK Bonoharjo. Berdasarkan SK Yayasan Kanisius, mulai 1 Juli 2017, Kepala Sekolah Th. Endah Ngestining Rahayu, S.Pd. secara resmi dipindahtugaskan ke SD Kanisius Gamping, Sleman. Sebagai penggantinya adalah Emmauel Sulistya Asmara, S.Pd. Sebelumnya, Pak Sulis-lulusan PGSD Universitas Sanata Dharma, menjabat sebagai Kepala SD Kanisius Nanggulan, Kulon Progo.

 

Terima kasih Bu Endah atas kerja kerasnya membangun Bonoharjo melalui pendidikan selama ini.

Selamat datang Pak Sulis dan mari bersama-sama mencetak generasi gereja yang beriman, cakap, berhati nurani benar, dan berbela rasa. AMDG

 

 

Untungnya Sekolah di Kanisius

    Enam Imam Baru (dok.tahbisan.id/sj2017)

Hari ini (13/07/2017) di Gereja St Antonius Padua Kotabaru , Yogyakarta diadakan tahbisan 6 imam baru Serikat Jesus (SJ). Mereka adalah Diakon A. Dhimas Hardjuna, SJ., F. Tuhu Jati Setya Adi, SJ., G. Hadian Panamokta, SJ., St. Advent Novianto, SJ., Th. Septi Widhiyudana, SJ., dan Th. Surya Awangga Budiono, SJ. Misa yang berlangsung dari pukul 9.00-11.45 ini dipimpin oleh Uskup Agung Semarang Mgr. Robertus Rubiyatmoko dan didampingi oleh Kardinal Mgr. Julius Darmaatmadja, SJ., Arturo Marcelino Sosa Abascal, SJ. (Pater Jenderal/Pimpinan Tertinggi Serikat Jesus dari Roma ), P. Sunu Hardiyanta, SJ. (Provinsial/Pimpinan Serikat Jesus Indonesia), dan A. Sugijopranoto, SJ. (Rektor Kolese St. Antonius Kotabaru).

Koor misa tahbisan oleh murid SD Kanisius Yayasan Kanisius Yogyakarta (dok. tahbisan.id/sj2017)

Ada yang menarik dari perayaan syukur tersebut. Petugas koor dilaksanakan oleh siswa-siswi dari SD Kanisius yang berada dalam naungan Yayasan Kanisius Yogyakarta. Ini adalah kali pertama koor tahbisan, yang bisanya dimotori oleh kelompok koor ternama beranggotakan pakar bernyanyi orang-orang dewasa, dijalankan oleh anak-anak sekolah dasar. Puluhan lagu bernuansa keroncong, pop, dan gerejawi dinyanyikan dengan antusias dan luar biasa selama misa yang berlangsung hampir 3 jam tersebut.

Romo Hadian Panamokta, SJ., dalam kata sambutannya mewakili para imam baru, menyampaikan bahwa petugas koor sengaja diambil dari siswa-siswi sekolah dasar dengan harapan ada 1, 2, 3 orang, atau seterusnya yang kelak akan tertarik dan terganggil menjadi suster, bruder, atau romo. Sebuah peristiwa yang sangat membahagiakan. Bukan saja bagi para keluarga tertahbis, melainkan juga bagi para orang tua yang menyekolahkan anaknya di sekolah kanisius.

Trans Kanisius “baru” siap melayani (dok. Romo Santo)

Kabar gembira juga diperoleh dari Gereja Bonoharjo. Kemarin (12/07/2017) telah hadir mobil Trans Kanisius menggantikan mobil lama dan renta yang mesinnya kerap ngadat. Mobil berwarna putih ini melayani antarjemput siswa yang bersekolah di Playgroup St Theresia Lisieux, TK Maria Mater Dei, SDK Bonoharjo dan Milir, serta SMP Kanisius Wates. Dewan Stasi berharap dengan hadirnya mobil Trans Kanisius dapat meningkatkan pelayanan gereja kepada orang tua murid. Paling tidak, biaya transportasi murid menjadi lebih ringan. Biaya pendidikan di sekolah katolik, terlebih biaya transportasi ke sekolah, jangan sampai menjadi alasan pembenar untuk tidak menjadikan anak-anak kita beriman tangguh dan mendalam. Semoga….

Cinta Masyarakat untuk Romo Yatno

Ribuan umat memadati Kapel di Seminari Tinggi St Paulus Kentungan, Yogyakarta untuk berdoa bersama dalam Misa Requiem Romo Yoseph Suyatno Hadiatmojo, Pr., pada Kamis (6/7). Beberapa tenda tambahan di samping kapel tidak mampu menampung rasa cinta umat untuk memberikan penghormatan terakhir kepada Romo Yatno. Umat dengan rela duduk di atas rumput halaman tengah seminari di bawah terik sinar matahari.

         Umat memenuhi kompleks seminari

Uskup Agung Semarang Mgr. Robertus Rubiyatmoko, Pr. memimpin misa tersebut didampingi Mgr. Pius Riana Prapdi (Uskup Keuskupan Ketapang) dan beberapa Romo Praja sebagai konselebran. Dalam doanya, Mgr. Rubiyatmoko mengenang Romo Yatno sebagai pribadi yang penuh rasa kemanusiaan, terlebih kepada orang yang lemah. Pendeta Bambang Subagya, S.Th. dari GKJ Ambarrukma sekaligus salah seorang penggagas FPUB (Forum Persaudaraan Umat Beriman) menilai sosok Romo Yatno sebagai Imitatio Christi (menyerupai Kristus). Yesus yang selalu peduli kepada orang lemah dan tersingkir diteladani sungguh-sungguh oleh beliau. “Saya tidak berduka atau bersedih karena saat ini Romo Yatno telah bahagia berpulang ke Rumah Bapa yang kekal”, lanjut Pdt. Bambang.

             Doa di FPUB                      (dok. Gembong)

Romo Yohanes Dwi Harsanto, Pr., mewakili Unio (forum paguyuban imam-imam diosesan/praja), menyebut Romo Yatno sebagai pribadi yang punya komitmen dalam melayani sesama. Bahkan Romo Yatno sejak Agustus 2016 telah mendapat izin dari Uskup Agung Semarang untuk tidak melayani umat di sebuah paroki, melainkan langsung melayani masyarakat di lereng Merapi, berkecimpung di bidang sosial, dan membangun pluralisme melalui FPUB. “Romo Yatno sudah seperti sosok Romo Mangun”, kenang Romo Santo.

Turut hadir Sri Sultan Hamengkubuwono X, Gusti Kanjeng Ratu Hemas, Kapolda DIY, Danrem 072 Pamungkas, dan beberapa pejabat pemerintahan lainnya. Puluhan biarawan, biarawati, para Romo Praja, Jesuit, MSF, SCJ, dan berbagai ordo lain turut larut dalam kesakralan ekaristi tersebut. Dalam karangan bunga tampak ucapan duka cita dari keluarga mantan Presiden RI ke-4 Gus Dur dan juga Jaringan Gusdurian.

Semoga ke depan akan muncul banyak lagi pribadi seperti sosok Romo Yatno yang selalu kita kenang sebagai pribadi penuh kepedulian kepada sesama yang lemah, miskin, tersingkir, dan difabel; tanpa membedakan suku, agama, ras, maupun adat istiadatnya. AMDG

Romo Yatno tidak hanya dicintai umat katolik saja, tapi juga umat berbagai agama

 

In Memoriam Romo Yatno

http://www.sesawi.net/2017/07/05/in-memoriam-romo-y-suyatno-ha-1diatmojo-pr-senyum-mengembang-sebelum-masuk-kamar-operasi/

http://www.sesawi.net/2017/07/05/in-memoriam-romo-yosep-suyatno-pr-pejuang-lintas-iman-dan-kemanusiaan-di-lereng-gunung-merapi-2

http://www.sesawi.net/2017/07/05/in-memoriam-romo-yosep-suyatno-pr-catatan-menjelang-tahbisan-imam-tahun-1989-3/

https://kompas.id/baca/dikbud/2017/07/06/pastor-yatno-hingga-akhir-hayat-membantu-orang-kecil/

http://www.solopos.com/2017/07/05/kabar-duka-romo-yosep-suyatno-pionir-kerukunan-dan-kemanusiaan-wafat-831121

https://seword.com/spiritual/selamat-jalan-romo-yatno-pejuang-kemanusiaan-dan-lintas-iman/

https://www.pressreader.com/indonesia/kompas/20170706/281822873825659

http://id.beritasatu.com/home/selamat-jalan-para-pejuang-kerukunan-dan-kemanusiaan/162216

http://www.hidupkatolik.com/2017/07/05/9274/selamat-jalan-pejuang-kerukunan-dan-kemanusiaan/

http://www.pertama.id/mengenang-romo-rusgiharto-dan-suyatno/