Sireng Ala Anak-anak Bonoharjo Bersama Frater Dan Suster

Siapa mau jadi Romo? Lima anak laki-laki angkat tangan. Syukur kepada Allah, benih panggilan bermekaran di kalangan anak Bonoharjo.

Minggu (13/8) sebanyak 34 anak-anak dari 12 lingkungan se-stasi Bonoharjo sinau bareng dua frater dari Seminari Tinggi St. Paulus Kentungan dan dua suster Abdi Kristus Paroki Wates. “Mudahan-mudahan dengan belajar bersama ini ada anak-anak yang berminat menjadi Romo dan Suster,” demikian sepenggal kalimat sambutan pastor kepala Paroki Wates, Romo Paulus Susanto Prawirowardoyo, Pr. Kegiatan Belajar Bersama Frater dan Suster bertujuan untuk mempersubur bibit panggilan khususnya menumbuhkan minat dan ketertarikan untuk menjadi Romo dan Suster.

1.Sambutan Romo
Sambutan Romo Paroki Wates

Kegiatan berlangsung meriah. Anak-anak sangat antusias dan sangat menikmati dinamika yang ada. Setelah sambutan, anak-anak melakukan games bersama fr. Antok. Setelah games, banyak hal yang dibagikan oleh fr. Kris dari paroki Salam dan juga Suster Yosephine dan Suster Faustina Abdi Kristus. Mulai dari suka-duka menjadi frater dan suster, kehidupan sehari-hari di seminari dan biawa, serta cara-cara dan tahap-tahap yang dijalani untuk menjadi Romo. Mulai dari seleksi, menjalani kehidupan di seminari Mertoyudan, Tahun Orientasi Rohani (TOR), menjadi frater di Seminari Tinggi hingga ditahbiskan menjadi seorang Imam. Di Seminari bakat dan talenta para frater sangat diperhatikan. Mulai dari bakat olahraga, seni peran, menulis, bermusik, hingga sekedar jalan-jalan untuk refreshing. Menjadi suster juga mengasikkan dan dapat melakukan banyak hal. Suster tugasnya tidak hanya berdoa, tetapi juga menjalani kehidupan yang pada umumnya dilakukan banyak orang. Mulai dari memasak, menyanyi, berkebun, mengajar, dan lain sebagainya. Jangan takut untuk menanggapi panggilan menjadi Romo dan suster, karena selain kehidupan rohani yang diolah sikap dan pengetahuan juga sangat diolah.

Setelah belajar bersama, anak-anak kembali bersenang-senang dalam game Fashion Show. Secara berkelompok anak-anak membuat kreasi baju dari kertas koran. Kerja sama dalam tim dan kreativitas sangat diperlukan dalam Games ini. Kreasi baju hasil kerja tim dinilai dan ditentukan kelompok terbaik. Anak-anak sangat antusias, apalagi semua kelompok juara atau tidak mendapat hadiah dari frater berupa buku.

This slideshow requires JavaScript.

Terima kasih frater dan suster atas sharingnya.

Para Ibu di Hari Raya Sang Ibu

Hari ini (13/8) Gereja semesta merayakan Hari Raya Maria Diangkat Ke Surga. Dalam kotbah ekaristi, Romo Santo menyampaikan bahwa untuk mencapai kemuliaan seseorang harus meneladan Bunda Maria. Ia secara penuh menyerahkan hidupnya dan percaya utuh kepada Allah.

Bertepatan dengan hari raya Sang Bunda, para ibu di Stasi juga makin menunjukkan perannya di gereja. Para ibu tidak lagi kanca wingking melainkan bagian umat yang ikut bertanggung jawab terhadap kemajuan gereja. Dari para ibulah dasar gereja dibangun melalui keluarga.

 

Pertemuan Ibu-ibu Warasemedi

Pertemuan Ibu-ibu Stasi

Dalam waktu yang bersamaan, setelah ekaristi selesai, dilaksanakan pertemuan ibu-ibu warasemedi di ruang kelas V dan ibu-ibu stasi di ruang kelas IV SDK Bonoharjo. Selain arisan rutin, para ibu tersebut juga melakukan doa bersama dan merencanakan berbagai program pendampingan. Lebih dari itu, peran ibu-ibu di Stasi Bonoharjo makin membahana ketika mereka telah bersiap-sedia berkompetisi dalam pertandingan bola voli dalam rangka HUT RI ke-72. Viva the power of  para ibu!

Skema Pertandingan Voli Ibu

 

 

Memberi Berkat di Tanah Leluhur

Pada Kamis (13/7/2017) telah ditahbiskan enam imam baru dari Ordo yang didirikan oleh Santo Ignatius, yaitu Serikat Yesus (SJ). Salah satu diantaranya adalah Romo Gerardus Hadian Panamokta, SJ (Romo Okta). Sosok yang gagah dan ganteng ini tanpa disangka bisa hadir dan menghunjukkan Ekaristi Minggu di Gereja Maria Mater Dei Bonoharjo, bertepatan dengan Pesta Yesus Menampakan Kemuliaan-Nya (6/8).

Romo Okta menyambut anak-anak untuk memberikan “Komuni Bathuk”

Bermula dari pertemuan tidak sengaja antara Romo Okta (waktu itu masih diakon) dengan Romo Yohanes Wicaksono, Pr saat mengamen dana pembangunan gereja Bonoharjo di Paroki Blok B Jakarta. Singkat cerita, akhirnya diketahui bahwa Romo Okta ternyata memiliki tanah leluhur di Bonoharjo. Romo Okta merupakan putra dari Yohanes Kayat dan Ibu Pur yang berasal dari Yogyakarta. Lebih spesifik lagi, sang ayah berasal dari Cumethuk, Kedungsari (Lingkungan St Bacillius, Bonoharjo) dan sang ibu berasal dari Tamansari, Paroki Pugeran. Yohanes Kayat merantau ke Jakarta sejak tahun 1984 dan membangun keluarga di sana.

“Ketika hari ini Yesus menampakkan kemuliaan-Nya. Hari ini Romo Okta juga menampakkan dirinya di Bonoharjo.” kata Romo Wicak. Dalam homilinya, Romo Okta menyampaikan bahwa kita diundang Tuhan untuk menjadi mulia. Untuk itu diperlukan dua hal, yaitu restu dan dukungan. Bacaan Injil menceritakan Yesus mendapat restu dari Allah Bapa (“Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan”). Restu adalah undangan untuk mencicipi kemuliaan-Nya. Dalam kehidupan sehari-hari, hal ini bisa dimaknai dalam bentuk restu dari orang tua, sesepuh, atau para leluhur. Sejak kecil Romo Okta selalu mendapat restu dari kedua orang tua dengan tanda salib di dahi setiap akan berangkat sekolah. Ia pun mengajak keluarga di Bonoharjo untuk mempraktikkan hal tersebut.

Yang kedua adalah dukungan. Dalam Injil dikisahkan pula Yesus bertemu dengan Nabi Musa dan Elia. Kita tahu bahwa merekalah tokoh dan pemimpin pembebasan Bangsa Israel dari perbudakan. Dukungan dari semua pribadi menjadi penting untuk mencicipi dan merasakan kemuliaan Tuhan. “Kita harus selalu memohon restu dari Tuhan dan leluhur, serta dukungan dari orang lain” simpul Romo Okta yang mendapat tugas perutusan perdana di SMA Kolese Gonzaga, Jakarta Barat.

Umat memberikan ucapan selamat atas sakramen imamat

Di akhir Ekaristi, Agapitus Slamet (Ketua Dewan Stasi) memberikan kata sambutan berisi ucapan selamat dan paparan kondisi umat Bonoharjo. Acara dilanjutkan dengan sepatah kata dari Yohanes Kayat mewakili keluarga. Romo Okta juga menambahkan bahwa pemberian nama dari orang tua mengandung makna mendalam. Gerardus merupakan nama santo yang dirayakan bertepatan dengan bulan kelahirannya (Gerardus dari Mayella, 16 Oktober). Hadian berasal dari kata ‘Hadiah Tuhan’. Sedangkan Panamokta terdiri dari dua kata, yaitu Panam (‘Delapan Enam’, tahun lahir 1986) dan Okta (‘Oktober’, bulan kelahiran). Ekaristi ditutup dengan ajakan Romo Wicak untuk mensyukuri anugerah ini dengan pesta bersama di halaman gereja; Pesta Sopi (tipis tur rata, soto sapi).

Suasana akrab pesta “SOPI”

 

Mengenal 8 Imam Diosesan Baru KAS

Ke depan altar aku melangkah, seraya bermadah gembira ria. Saat bahagia hari yang mulia, hari yang penuh kenangan ….” Terlantun lagu pengiring perarakan panjang lelaki berjubah putih memasuki Kapel Seminari Tinggi St. Paulus Kentungan. Di barisan paling akhir perarakan, tampak lelaki berkumis memakai jubah putih megah memakai tutup kepala dan membawa tongkat dengan tangan kiri. Perakan itu menandakan dimulainya Misa Tahbisan Imamat KAS.

Di hari Selasa (25/07/17) bertepatan dengan Pesta St. Yakobus Rasul, delapan diakon menerima Sakramen Tahbisan Imam dari tangan Mgr. Robertus Rubiyatmoko. Kini KAS mempunyai delapan Imam Diosesan Baru. Sebagai umat, kita patut berbahagia karena benih panggilan di KAS masih terbilang subur setelah dalam waktu 45 hari kehilangan 3 Imam, ibarat pepatah Mati Satu Tumbuh Seribu.

WhatsApp Image 2017-07-25 at 12.50.19 PM
Sumber: Arsip Pribadi

Siapa saja mereka, simak profil singkat delapan Imam Diosesan baru KAS.

1. Rm. Emmanuel Graha Lisanta, Pr.

2

Nama Panggilan  : Romo Graha

Tempat, tgl lahir  : Sleman, 31 Desember 1989

Asal Paroki           : Paroki St. Aloysius Gonzaga Mlati

Alamat                   : Jl. Sambisari, Kebonagung RT 003/RW

31  Tridadi, Sleman.

Nama Ortu           : Antonius Yudhi Sulistyo – Yuliana Suwarni

Pengalaman panggilan Romo Graha bermula dari suatu peristiwa tatkala berdoa sambil memandang wajah Yesus yang ada di salib besar di belakang altar sebelum memulai Ekaristi Sabtu sore.“…saya seolah melihat Yesus menoleh ke arah saya dan ada suara, “Ikutlah Aku!”, Saya Kaget. Ada perasaan takut, bingung, sekaligus takjub. Mana mungkin patung Yesus itu bisa bergerak dan berkata-kata? Saya kembali kaget ketika dalam Ekaristi sore itu dibacakan kisah tentang Yesus yang memenggil Matius si pemungut cukai untuk menjadi murid-Nya. Di sana saya menemukan kata-kata Yesus: “Ikutlah Aku!” (Mat 9:9). Spontan muncul pertanyaan, Apakah Tuhan memanggil saya untuk menjadi imam?” Rupanya pertanyaan itu mengantarkan Romo Graha menjadi Imam Baru di KAS.

2. Rm. Martinus Sutomo, Pr.

3

Nama Panggilan   : Romo Tomo

Tanggal lahir         : 19 November 1981.

Alamat                    : Sidomulyo RT 002/RW 005, Beluk, Bayat,

Klaten, Jawa Tengah.

Nama Ortu            : Paulus Supadi – Margaretha Tumirah

Panggilan menjadi imam tumbuh dari sapaan Ibu C. Mariati (Bu Mur), salah satu guru Romo saat SMP, “Le, mbok kowe suk yen gedhe dadi romo?”Romo menjawab dengan jawaban asal ”Nggih” sambil menganggukkan kepala yang saat itu hanya sebatas basa-basi. Sapaan tersebut terus membayang-bayangi Romo Tomo sampai lulus SMK, bekerja, mendapat penolakan masuk Seminari Mertoyudan, kembali bekerja, masuk Seminari Tahun Orientasi Rohani dan menjalani masa-masa menjadi seminaris hingga ditahbiskan menjadi Romo.

3. Rm. Markus Januharta, Pr.

Rm. Nanung

Nama Panggilan    : Romo Nanung

Tempat, tggl lahir  : Yogyakarta, 25 April 1977.

Alamat                      : Jl. P. Senopati, No. 25 Yogyakarta

Nama Ortu               : Aloysius Haryadi (Alm) – Dra. R. Ay. Yohana

Ani Martanti MBA (Alm).

Benih panggilan muncul setelah Romo Nanung melanglang buana kuliah di Arsitektur Atmajaya Yogyakarta, dan melanjutkan studi di Universitas Gajah Mada Yogyakarta. Banyak kebanggaan duniawi berhasil diraih yang menurutnya hanya kosong belaka. Romo Nanung menggambarkan dirinya sebagai “Si Kertas Kusut”. Banyak tulisan dan gambar membanggakan yang ditorehkan dalam dirinya namun hanya kebanggaan kosong yang berkali-kali dihapus hingga tertoreh tulisan dan gambar tentang kasih Kristus yang mengagumkan dan menghantarkan menjadi seorang Imam.

4. Rm. Ig. Adi Sapto Wibowo

5a

Nama Panggilan    : Romo Adi Sapto

Tempat, tggl lahir  : Semarang, 21 September 1987

Alamat                     : Jl. Pekunden Tengah 1037 Semarang

Asal Paroki             : Gereja SPM Ratu Rosario Suci Katedral Randusari

Nama Ortu             : (Alm) Fx. Soetrisno Hadi S – (Alm) Maria Sri Sukani

 

Sebagai anak bungsu dari tujuh bersaudara, saat kecil Romo berharap menjadi tentara nan gagah berani atau dokter nan lembut dan ganteng. Namun anehnya, setiap ditanya mengenai cita-cita oleh siapapun, Romo Adi (dulu) selalu menjawab “Pengen dadi Paus”. Awal cita-citanya dibuktikan dengan mejadi Imam. Selamat berkarya Romo, semoga cita-citanya kelak dijamah Tuhan.

5. Rm. Laurentius Andika Bhayangkara, Pr.

Nama Panggilan    : Romo DikaRm Dika

Tempat, tggl lahir  : Ungaran, 11 Juni 1978

Alamat                     : Jl. Cempaka I/9 Gowogan, Ungaran 50512

Paroki                      : Kristus Raja Ungaran

Nama Ortu             : Ignatius Sudirjo – Irene Agnes Sri Rahayu

Anak ke-6 dari tujuh bersaudara ini mempersembahkan diri menjadi Imam sebagai wujud syukur atas kasih dan penyertaan Allah dalam hidup. Doa memohon kasih karunia Allah untuk menyelamatkan Bapak dari kecelakaan dan juga kakak Ipar dari kecelakaan yang terjadi berikutnya dikabulkan Allah dan semua memperoleh kesembuhan. Dalam doa itu pula, janji akan membalas kebaikan-Nya senantiasa dipanjatkan. “Aku akan membayar nazarku kepada Tuhan di depan seluruh umat-Nya” (Mzm 116) menjadi kesadaran untuk memenuhi janji yang terucap tahun 2003 dan 2007 hingga mengantarkan menjadi Romo.

7

6. Rm. Hieronymus Rony Suryo Nugroho, Pr.

Nama panggilan     : Romo Rony

Tempat, Tgl Lahir  : Kulon Progo, 4 Februari 1990

Asal Paroki              : Santa Theresia Lisieux Boro

Nama Ortu              : Ambrosius Suparjana Hendrasiswoyo–

Maria Regina Muryanti

Panggilan menjadi imam berawal dari masa kecil yang suka berkunjung di ruang rekreasi pastoran yang saat itu terdapat TV, koran, dan kipas angin. Sosok romo di paroki yang bersahabat, menyenangkan, ramah, dan membuat nyaman menginspirasi Romo Rony untuk dekat dengan Gereja, masuk seminari, dan menjadi Imam.

7. Rm Yohanes Wahyu Rusmana, Pr

3

Nama Panggilan     : Romo Jojo

Tempat tggl lahir    : Yogyakarta, 7 Oktober 1988

Nama Orangtua      : Paiman – Lucia Suwuh

Pengalaman kuat Romo Jojo yang mendorong menjadi imam adalah melihat dan keterlibatan dalam kunjungan beberapa imam kepada umat dan keterlibatan dalam tugas misdinar. Keinginannya semakin lama semakin kuat hingga membawa ke perjalanan pendidikan seminaris dan kini menjadi Romo KAS.

3

8. Rm. Ambrosius Heri Krismawanto, Pr

Nama Panggilan   : Romo Heri

Tempat tggl lahir   : Bantul, 8 Desember 1987

Nama Orang tua    : Gomarus Heru Sutrisno  – Maria Dominika

Iswanti

Panggilan menjadi imam hadir melalui sapaan Tuhan melalui keluarga. Bapak sangat aktif di Gereja dan masyarakat. Ibu, seorang sederhana dan sabar. Adik yang pertama meninggal, namun adik kedua yang lahir saat masuk menjadi seminaris menjadi kegembiraan bagi keluarga. Panggilan semakin kuat ketika waktu kecil ada Romo berambut Gondrong menyapa dengan sederhana, “Besok kalau sudah gedhe jadi Romo ya…” Romo Heri melanjutkan SMA di Seminari Mertoyudan dan menempuh pendidikan seminaris dan kini menjadi Romo.

 

Kisah perjalanan panggilan kedelapan romo diungkapkan dalam Motto “Kecaplah betapa sedapnya Tuhan” (Mzm 34:9). Profisiat dan Selamat berkarya Romo.

 

Sumber:

Kotbah Mgr. Robertus Rubiyatmoko dalam Misa Tahbisan 8 Imam KAS

Seminari Tinggi St. Paulus. (2017). “Ketika Tuhan Memanggil”. Yogyakarta: Penerbit PT Percetakan   Kanisius.

Sumber Foto:

https://www.facebook.com/rony.s.nugroho.9/photos?lst=1642346985%3A100000153067523%3A1501061134&source_ref=pb_friends_tl

https://www.facebook.com/emmanuel.grahalisanta/photos?lst=1642346985%3A100001357812360%3A1501062285&source_ref=pb_friends_tl

 

Surat Gembala KAS Menyambut AYD 2017

Pada Ekaristi Sabtu (15/7) petang di Gereja Maria Mater Dei Bonoharjo,  Romo Paulus Susanto, Pr. membacakan Surat Gembala dari Mgr. Robertus Rubiyatmoko dalam rangka menyambut Asian Youth Day (AYD) ke-7 yang puncaknya akan dilaksanakan di Yogyakarta (2-6/8). Dalam kotbahnya, Romo Santo juga menambahkan agar kita proaktif dalam menyambut dan menyukseskan AYD 2017.  Berikut isi dari Surat Gembala tersebut:

 

Ajakan Menyongsong “ASIAN YOUTH DAY VII” di Keuskupan Agung Semarang

(Disampaikan pada hari Sabtu/Minggu, 15/16 Juli 2017)

 

Para Rama, Bruder, Suster, Frater dan Saudara-saudari, seluruh umat katolik di Keuskupan Agung Semarang yang terkasih. Berkah Dalem. Bagaimana kabar Anda? Semoga selalu dalam keadaan sukacita dan berpengharapan.

Pada tanggal 2 sampai dengan 6 Agustus 2017 nanti, kita akan menjadi tuan rumah untuk peristiwa besar dan bersejarah, yaitu AYD atau “Asian Youth Day” ke-tujuh (Hari Orang Muda Asia Ke-7). Sebelumnya, yakni tanggal 30 Juli sampai dengan 2 Agustus 2017, para peserta AYD akan live in atau tinggal bersama umat di 11 keuskupan di Indonesia. Setelah AYD, yaitu tanggal 6-9 Agustus 2017, para pembina orang muda Asia masih akan melanjutkan pertemuan di Pusat Pastoral Sajaya Muntilan.

Dalam rangka menyambut AYD ke-7 ini, paroki-paroki, kampus-kampus, dan komunitas-komunitas, sudah menggelar estafet salib AYD dan menggerakkan umat dengan berbagai kegiatan. Sekarang, tibalah saat puncak, yaitu berkumpulnya 2000 (dua ribu) orang muda Katolik di Keuskupan Agung Semarang, khususnya di kota Yogyakarta. Mereka berasal dari 19 negara se-Asia, termasuk Indonesia. Akan hadir pula para Uskup dari negara-negara Asia, termasuk para Uskup seluruh Indonesia.

Menghadapi peristiwa tersebut, selain mempersiapkan diri menjadi tuan rumah yang baik, kita juga menyadari betapa Tuhan mencintai dan memiliki rencana yang indah. Kita dipercaya menjadi tuan rumah “Asian Youth Day” ketujuh, tepat setelah kita mencanangkan “Rencana Induk Keuskupan Agung Semarang 2016-2035”. Kenyataan ini membuat kita merenung sejenak. Mengapa Tuhan mempercayakan AYD ke-7 ini kepada kita? Salah satu jawabannya ialah, bahwa Tuhan ingin kita melaksanakan RIKAS 2016-2035 dengan lebih serius, yaitu dengan lebih memberikan kepercayaan kepada orang muda, sebagai generasi pengemban tanggung jawab perkembangan Gereja.

Dalam pemikiran seperti ini, “Asian Youth Day” ketujuh menjadi anugerah yang besar bagi Gereja Keuskupan Agung Semarang. Dengan “Asian Youth Day” ketujuh ini, Tuhan mau menyemangati kita agar menjadi Gereja yang bermasa depan cerah. Mau tidak mau, sebagai ungkapan syukur atas masa depan yang cerah itu, kita mesti menaruh kepercayaan besar kepada generasi muda. Kita mempersiapkan orang-orang muda ini mulai sekarang, agar mereka mengalami pembinaan yang berjenjang dan berkelanjutan sehingga mereka bergembira untuk menyambut estafet tanggungjawab perutusan.

Sebagaimana Injil hari ini, kita hendaknya menjadi tanah yang subur bagi pertumbuhan Gereja dengan cara membina generasi muda. Oleh karena itu, pada kesempatan ini saya mengajak para imam dan para orang tua pengemban tanggungjawab Gereja, agar bekerja sama dengan orang-orang muda. Bersama orang muda, kita kembangkan aneka bentuk perutusan yang sesuai dengan amanat RIKAS demi terwujudnya masyarakat yang memiliki budaya kasih. Hal ini cocok sekali dengan tema AYD ke-7: “Joyful Asian Youth! Living the Gospel in Multicultural Asia” (Orang muda Asia yang penuh sukacita menghidupi Injil di Asia yang memiliki aneka budaya). Suka cita Injil hendaknya mengobarkan hati dan budi kita, agar kita lebih mengasihi budaya dan pergaulan kita di tengah masyarakat yang majemuk ini.

Akhirnya saya mengajak para Rama, Bruder, Suster, Frater dan Saudara-saudari, seluruh umat katolik di Keuskupan Agung Semarang, untuk mendoakan dan mendukung sepenuhnya “Asian Youth Day” ketujuh, dengan antara lain berpartisipasi dalam Misa Akbar AYD pada tanggal 6 Agustus 2017 di Lapangan Adisucipto Yogyakarta. Semoga AYD ke-7 ini menjadi bagian dari rencana Tuhan yang indah bagi keuskupan kita. Mari bersemangat dan bersuka cita, karena Tuhan mengasihi kita. Berkah Dalem.

 

Semarang, 7 Juli 2017

† Robertus Rubiyatmoko
Uskup Agung Semarang

 

 

 

Ingin tahu lebih banyak tentang event dahsyat itu?

http://asianyouthday.org/

 

Stasi Bonoharjo Adakan Pelatihan Jurnalistik

Z.Bambang Darmadi memberikan Pelatihan Jurnalistik

Stasi Bonoharjo mengadakan “Pelatihan Jurnalistik: Menulis Berita dan Release” pada hari Minggu (2/7). Pelatihan ini bertempat di SD Kanisius Bonoharjo dengan nara sumber Drs. Z. Bambang Darmadi, M.M. Beliau adalah seorang penulis dan dosen ASMI SANTA MARIA Yogyakarta. Antusiasme Umat Stasi Bonoharjo ini terlihat dari banyaknya peserta yang terlibat dalam kegiatan yang berasal dari berbagai kalangan. Mulai dari OMK, guru SD, dosen, sampai umat yang sudah lanjut usia. Continue reading “Stasi Bonoharjo Adakan Pelatihan Jurnalistik”

Minggu Palma di Stasi Bonoharjo

 

         

 

Ada yang berbeda pada perayaan Minggu Palma di Gereja Bonoharjo. Panitia Paskah 2017 dengan ketua umum FX Rismanto dari wilayah Srikayangan berusaha membuat perayaan Minggu Palma berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Pada perayaan sebelumnya, sebelum masuk gereja umat membawa daun palma (lambang kebebasan) dan berjalan mengelilingi gereja. Pada perayaan Minggu Palma (Minggu, 9/4), umat menanti di pinggir jalan jalur yang dilalui pemimpin misa, Romo Yohanes Wicaksono Pr. Dengan menggunakan gerobak yang ditarik dan didorong OMK Stasi, Romo Wicak “sukses” memerankan tokoh Yesus masuk kota Yerusalem. Dalam homilinya, romo Wicak menekankan tiga hal penting dalam hidup. Pertama, jangan sampai rasa atau perasaan menguasai hidup kita. Kedua, umat katolik harus menjadi panutan dalam membangun ketenteraman. Umat katolik juga diharapkan menjadi manusia yang selalu berpikir positif dan menjadi pribadi-pribadi yang sabar. Ketiga, sebagaimana namanya, misa suci adalah perayaan suci. Apapun situasinya, umat diharapkan menjaga kesucian misa. “Diusahakan setiap mengikuti misa kudus datangnya tidak telat”, demikian pesannya.