Renungan JUMAT AGUNG

Dalam renungan kali ini, saya akan menceritakan sebuah kisah berjudul “Harimau dan Anaknya”. Sebagaimana judulnya, ada dua tokoh utama dalam cerita ini, yaitu harimau dan anak harimau. Saat saya bercerita, marilah kita menempatkan diri kita sebagai si anak harimau. Sementara itu, tempatkanlah Yesus sebagai Harimau.

Di hutan yang lebat, hiduplah seekor harimau. Ia adalah penguasa hutan tersebut. Semua binatang tunduk padanya. Ia sangat gagah dan berwibawa, sehingga sangat dihormati oleh semua binatang di hutan. Semua binatang bangga memiliki pemimpin seperti si harimau. Situasi hutan menjadi sangat damai, karena sang harimau selalu bisa mengusir binatang-binatang buas dari luar hutan yang ingin membuat kekacauan di hutan. Sang harimau tak tertandingi oleh binatang manapun. Tak ada satu binatang pun yang bisa melukainya.

Di lain pihak, sang harimau ini mempunyai seekor anak yang masih kecil. Harimau kecil ini sangatlah nakal. Ia paling sering bermain permainan berburu dengan sang ayah. Harimau kecil ini berperan sebagai pemangsa dan sang ayah berperan sebagai mangsa. Meskipun masih kecil, harimau kecil ini mempunyai kuku dan gigi yang tajam. Maka, dalam permainan ini berkali-kali ia melukai ayahnya.

Sang harimau kini penuh luka karena kenakalan anaknya. Kegagahan dan kewibawaannya mulai berkurang karena luka-lukanya. Bahkan secara fisik, ia mengalami sakit luar biasa karena luka itu. Anaknya, harimau kecil tidak sadar akan penderitaan ayahnya dan terus saja bermain dan melukai ayahnya. Dan sang ayah tidak sekalipun membalas perbuatan anaknya. Akhirnya karena terlalu banyak luka, Sang harimau jatuh sakit dan mati. Dan si harimau kecil mulai sadar bahwa kematian ayahnya adalah karena dirinya. Sang Raja Harimau yang tak terkalahkan oleh binatang buas manapun, kini mati di tangan anaknya, seekor harimau kecil.

Marilah kita hening sejenak, kita renungkan pengalaman hidup kita masing-masing sebagai anak yang sering menyakiti bapaknya sebagaimana kisah saya tadi.

Sekali kita berbohong, berakibat pada satu tamparan di wajah Tuhan Yesus.

Sekali kita marah, berakibat pada satu ludahan di wajah Tuhan Yesus.

Sekali kita mencuri, berakibat pada satu tendangan di perut Tuhan Yesus.

Sekali kita melalaikan tugas, berakibat pada satu cambukan di punggung Tuhan Yesus.

Sekali kita egosi dan mau menang sendiri, berakibat pada tusukan mahkota duri di kepala Tuhan Yesus.

Sekali kita berbuat kasar dan menyakiti orang lain, berakibat pada satu tujukan paku di tangan Tuhan Yesus.

Sekali kita tidak hormat pada orang yang lebih tua, berakibat pada satu tusukan paku di kaki Tuhan Yesus.

Sekali kita berkata buruk tentang orang lain, berakibat satu tusukan tombak di perut Tuhan Yesus.

Dan … akhirnya …

Sekali kita berdosa, berakibat pada kematian Tuhan Yesus.

 

dari Power Ranger Biru

untuk Yesus Kristus sang Superhero Sejati

ENSIKLIK LAUDATO-si: Perawatan Rumah Kita Bersama

Selamatkan Rumah Kita Bersama, SEKARANG!!
Peradaban manusia dan sistem ekologi bumi saling berbenturan, merusak, dan mengancam (Gore, 2010: 32). Kerusakan alam tak ayal lagi telah menghantui hidup kita. Salah musim, gagal panen, naiknya permukaan air laut, banjir, tanah longsor, kekeringan berkepanjangan, munculnya berbagai penyakit “aneh” karena makanan terpapar polusi, mutasi berbagai mikroorganisme, dan berbagai kakacauan lingkungan lainnya telah hadir di tengan kehidupan kita. Ini semua akibat dosa kita, dosa ekologis. Satu hal yang bisa kita lakukan adalah menjalankan “pertobatan ekologis”, agar bumi ini kembali ramah dan nyaman untuk anak cucu kita kelak. Mari kita (saya dan Anda) mulai dari hal kecil di sekitar kita, sekarang juga … .

redaksi wmmd