Para Ibu di Hari Raya Sang Ibu

Hari ini (13/8) Gereja semesta merayakan Hari Raya Maria Diangkat Ke Surga. Dalam kotbah ekaristi, Romo Santo menyampaikan bahwa untuk mencapai kemuliaan seseorang harus meneladan Bunda Maria. Ia secara penuh menyerahkan hidupnya dan percaya utuh kepada Allah.

Bertepatan dengan hari raya Sang Bunda, para ibu di Stasi juga makin menunjukkan perannya di gereja. Para ibu tidak lagi kanca wingking melainkan bagian umat yang ikut bertanggung jawab terhadap kemajuan gereja. Dari para ibulah dasar gereja dibangun melalui keluarga.

 

Pertemuan Ibu-ibu Warasemedi

Pertemuan Ibu-ibu Stasi

Dalam waktu yang bersamaan, setelah ekaristi selesai, dilaksanakan pertemuan ibu-ibu warasemedi di ruang kelas V dan ibu-ibu stasi di ruang kelas IV SDK Bonoharjo. Selain arisan rutin, para ibu tersebut juga melakukan doa bersama dan merencanakan berbagai program pendampingan. Lebih dari itu, peran ibu-ibu di Stasi Bonoharjo makin membahana ketika mereka telah bersiap-sedia berkompetisi dalam pertandingan bola voli dalam rangka HUT RI ke-72. Viva the power of  para ibu!

Skema Pertandingan Voli Ibu

 

 

Advertisements

Memberi Berkat di Tanah Leluhur

Pada Kamis (13/7/2017) telah ditahbiskan enam imam baru dari Ordo yang didirikan oleh Santo Ignatius, yaitu Serikat Yesus (SJ). Salah satu diantaranya adalah Romo Gerardus Hadian Panamokta, SJ (Romo Okta). Sosok yang gagah dan ganteng ini tanpa disangka bisa hadir dan menghunjukkan Ekaristi Minggu di Gereja Maria Mater Dei Bonoharjo, bertepatan dengan Pesta Yesus Menampakan Kemuliaan-Nya (6/8).

Romo Okta menyambut anak-anak untuk memberikan “Komuni Bathuk”

Bermula dari pertemuan tidak sengaja antara Romo Okta (waktu itu masih diakon) dengan Romo Yohanes Wicaksono, Pr saat mengamen dana pembangunan gereja Bonoharjo di Paroki Blok B Jakarta. Singkat cerita, akhirnya diketahui bahwa Romo Okta ternyata memiliki tanah leluhur di Bonoharjo. Romo Okta merupakan putra dari Yohanes Kayat dan Ibu Pur yang berasal dari Yogyakarta. Lebih spesifik lagi, sang ayah berasal dari Cumethuk, Kedungsari (Lingkungan St Bacillius, Bonoharjo) dan sang ibu berasal dari Tamansari, Paroki Pugeran. Yohanes Kayat merantau ke Jakarta sejak tahun 1984 dan membangun keluarga di sana.

“Ketika hari ini Yesus menampakkan kemuliaan-Nya. Hari ini Romo Okta juga menampakkan dirinya di Bonoharjo.” kata Romo Wicak. Dalam homilinya, Romo Okta menyampaikan bahwa kita diundang Tuhan untuk menjadi mulia. Untuk itu diperlukan dua hal, yaitu restu dan dukungan. Bacaan Injil menceritakan Yesus mendapat restu dari Allah Bapa (“Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan”). Restu adalah undangan untuk mencicipi kemuliaan-Nya. Dalam kehidupan sehari-hari, hal ini bisa dimaknai dalam bentuk restu dari orang tua, sesepuh, atau para leluhur. Sejak kecil Romo Okta selalu mendapat restu dari kedua orang tua dengan tanda salib di dahi setiap akan berangkat sekolah. Ia pun mengajak keluarga di Bonoharjo untuk mempraktikkan hal tersebut.

Yang kedua adalah dukungan. Dalam Injil dikisahkan pula Yesus bertemu dengan Nabi Musa dan Elia. Kita tahu bahwa merekalah tokoh dan pemimpin pembebasan Bangsa Israel dari perbudakan. Dukungan dari semua pribadi menjadi penting untuk mencicipi dan merasakan kemuliaan Tuhan. “Kita harus selalu memohon restu dari Tuhan dan leluhur, serta dukungan dari orang lain” simpul Romo Okta yang mendapat tugas perutusan perdana di SMA Kolese Gonzaga, Jakarta Barat.

Umat memberikan ucapan selamat atas sakramen imamat

Di akhir Ekaristi, Agapitus Slamet (Ketua Dewan Stasi) memberikan kata sambutan berisi ucapan selamat dan paparan kondisi umat Bonoharjo. Acara dilanjutkan dengan sepatah kata dari Yohanes Kayat mewakili keluarga. Romo Okta juga menambahkan bahwa pemberian nama dari orang tua mengandung makna mendalam. Gerardus merupakan nama santo yang dirayakan bertepatan dengan bulan kelahirannya (Gerardus dari Mayella, 16 Oktober). Hadian berasal dari kata ‘Hadiah Tuhan’. Sedangkan Panamokta terdiri dari dua kata, yaitu Panam (‘Delapan Enam’, tahun lahir 1986) dan Okta (‘Oktober’, bulan kelahiran). Ekaristi ditutup dengan ajakan Romo Wicak untuk mensyukuri anugerah ini dengan pesta bersama di halaman gereja; Pesta Sopi (tipis tur rata, soto sapi).

Suasana akrab pesta “SOPI”

 

Kerja Keras H-2 FKT

Kelemahlembutan menjadi salah satu gerakan yang diperagakan

Senja menjelang malam (2/8), manakala seratusan anak dan remaja masih antusias berlatih mementaskan sebuah tarian kolosal. Halaman gereja Bonoharjo yang biasa lengang, tampak hiruk-pikuk oleh gerakan atraktif dan suara gending bertalu menggeber semangat muda.

Tidak seperti biasanya, kaum muda bisa berkumpul dalam jumlah besar karena magnet kesatuan bernama budaya. Puluhan penonton dari berbagai usia, dusun, desa, dan agama juga tampak berdiri berjubel, menyatu tanpa sekat, menikmati perpaduan gending dan tari tersebut.

                      Adegan utama

Itulah situasi dua hari menjelang pagelaran Festival Kesenian Tradisional (FKT) 2017 yang akan diselenggarakan di Lapangan Demangrejo. Agattia Septarini dengan bersemangat terus melatih dan memotivasi para penari yang akan mengambil lakon Yuyu Kangkang. Adegan dimulai dari masuknya para OMK yang memerankan ibu-ibu dalam sebuah masyarakat. Gending pun makin rampak manakala puluhan beyes (anak kepiting) masuk mengobrak-abrik suasana damai para anak-anak yang sedang bercengkerama dengan ibunya. Sketsa berpindah ke dalam seting para remaja cantik memesona para “kleting” yang memeragakan gerakan indah nan gemulai. Cerita terus mengalir dengan munculnya pimpinan para beyes dan kepiting, yaitu Si Yuyu Kangkang.

             Briefing para penari

                               Gending pengiring

Di waktu yang sama namun di lokasi yang berbeda, para petugas among tamu tampak berdiskusi dan gladi resik di rumah Alg. Sriyanto. Di rumah Pantaleon Suharyanto juga tampak beberapa OMK nglembur membuat perangkat pentas. Tidak ketinggalan pula, puluhan panitia FKT terjaga dan bekerja keras mendekorasi panggung yang telah berdiri megah di tengah Lapangan Demangrejo.

Logo lakon Yuyu Kangkang

Penasaran dengan kelanjutan lakon Yuyu Kangkang dan kemeriahan FKT yang rencananya akan dihadiri oleh pribadi-pribadi hebat seperti Hasto Wardoyo (Bupati Kulon Progo) dan Uskup Gustavo Adrian Benitez (Executive Secretary FABC/ Federation of Asian Bishops’ Conferences) dari Argentina yang saat ini berkarya di Kamboja?

Arsitek di Balik Atraktifnya Tari Kolosal Yuyu Kangkang

Hajatan besar FKT 2017 akan segera digelar (4/8) di Lapangan Demangrejo pukul 13.00-22.00 WIB. Bonoharjo sebagai tuan rumah sekaligus penampil akan mempersembahkan Tari Kolosal Yuyu Kangkang. Dengan kurang lebih 100 penari, lakon tersebut akan disajikan pada urutan kedua.

Agattia Septarini (dok. whats app)

Ada sosok hebat dibalik rencana pementasan Yuyu Kangkang. Agattia Septarini, biasa dipanggil Mbak Tiya, dialah arsitek para penari Bonoharjo. Tiya lahir pada September 1989. Menyelesaikan pendidikan dasar di SD Negeri Srikayangan dan SMP Negeri 2 Pengasih. Pendidikan menengah ditempuh di SMA Negeri 1 Lendah. Jenjang pendidikan tinggi diselesaikan pada tahun 2011 di Jurusan Pendidikan Seni Tari, Universitas Negeri Yogyakarta.

Kisah ketertarikan seni tari dimulai sejak usia anak-anak. Berawal dari hobi, makin dewasa makin digeluti dan merasa nyaman dengan hobi tersebut. Ia pun memiliki sanggar tari yang diberi nama Sanggar Timbang Doland di Dusun Pendem, Desa Srikayangan. Sanggar tari ini berdiri tahun 1998. Beberapa tahun kemudian sempat vakum dengan minimnya kegiatan budaya di daerah. Setelah lulus S1, Tiya fokus menghidupkan kembali sanggar tari tersebut. Berbagai prestasi telah diraih. Mereka telah terbiasa pentas di tingkat dusun sampai kabupaten. Anak didik banyak yang menjuarai berbagai even lomba di tingkat kabupaten. Pada 15/8/2017 nanti, Sanggar Timbang Doland bahkan ditunjuk oleh Dinas Kebudayaan Kulon Progo untuk pentas sebagai sanggar penggiat seni di Kecamatan Sentolo.

Melatih para penari Bonoharjo

“Saya mengikuti FKT dari awal mulanya dulu dan sejauh ini event ini semakin bekembang ke arah yang lebih baik” kata Tiya di sela-sela kesibukannya. Dia berharap agar FKT ke depannya diikuti oleh semakin banyak peserta dan lebih beragam lagi garapannya. “Semoga akan makin nampak keragaman kreativitas meskipun pendukungnya bukanlah 100% seniman profesional” pungkasnya.

Kegembiraan Menyambut FKT dan AYD

Baliho FKT

Minggu (30/7) pagi kompleks Lapangan Demangrejo tampak berbeda dari biasanya. Ratusan orang tumpah ruah di lokasi tersebut dan sepanjang jalan raya menuju lokasi. Umat Bonoharjo, baik tua, muda, maupun anak-anak, sakyeg saekapraya kerja bakti untuk mempersiapkan hajatan besar FKT OMK Rayon Kulon Progo (4/8) yang bersamaan pula dengan AYD 2017 (2-6/8).

Mereka tampak ceria dan antusias membersihkan lapangan dan sekitarnya. Pemasangan umbul-umbul, tenda, dan perataan tanah uruk lapangan juga dilakukan oleh umat. Kerja bakti juga dilakukan di gudang milik Alg. Sriyanto yang akan digunakan untuk transit peserta dan penampil FKT, khususnya 6 bus (240 peserta) dari luar Bonoharjo dan luar negeri (sebagian dari sekitar 22 negara peserta AYD).

Uruk lapangan yang sudah diratakan

Tampak pula puluhan umat membersihkan tepi jalan raya dari gudang menuju lapangan yang akan digunakan sebagai rute prosesi kirab peserta. Kompleks gereja dan SDK Bonoharjo pun tampak dibenahi. Ada 5 ruang kelas yang akan digunakan untuk refleksi para peserta AYD setelah menyaksikan pentas FKT.

Pengelola sumber energi umat

Para ibu-ibu tampak hilir-mudik menyediakan konsumsi hasil bantingan umat. Buah-buahan panenan kebun, krowotan, dan gorengan tampak mendominasi sumber energi umat. Disela-sela kesibukan melayani konsumsi, tampak beberapa ibu yang memperbincangkan cara berbicara bahasa inggris dasar. Mereka inilah yang akan “diberi mandat” menyapa, menyajikan, dan mengenalkan berbagai jenis makanan pala kesimpar dan pala kapendhem kepada para tamu dari luar negeri. Salah satu umat, Yustina Rini, menyampaikan pula bahwa akan ada sekitar 50 orang OMK dan romo pendamping dari Malang, Jawa Timur yang akan tampil dan tinggal sementara di rumahnya.

Romo Billie sedang berbincang dengan Ketua Dewan Stasi. Tampak pula beberapa OMK Paroki Boro

Hadir dalam kegiatan kerja bakti tersebut, Romo Jonathan Billie Cahyo Adi, Pr dari Paroki Boro, Kulon Progo. Romo Billie yang ditahbiskan pada 7 Oktober 2013 ini merupakan romo pendamping OMK Rayon Kulon Progo dan telah mendampingi kegiatan FKT selama 3 tahun terakhir. Romo kelahiran Muntilan ini menyampaikan bahwa ia akan menemani sekitar 40 anak muda dari Paroki Boro untuk menyajikan kesenian ketoprak pada acara tersebut.

 

Galeri Foto:

Pemasangan umbul-umbul dan tenda

Umat membersihkan selokan pinggir lapangan

Anak-anak antusias menyaksikan kerja bakti

Umbul-umbul menunggu dipasang

Sebagian lokasi parkir motor

 

 

 

 

 

Bincang Hangat Komite dan Kepsek Baru TK-SDKB

Kulanuwun, itulah yang disampaikan E. Sulistya Asmara, S.Pd. (kepala sekolah baru) ketika mengawali sambutannya saat rapat komite dengan komunitas TK-SDK Bonoharjo (23/7) petang. Rapat yang berlangsung di ruang kelas 1 dan 2 ini berlangsung hangat dan diikuti pula oleh para guru. Selain bercerita tentang pengalaman di tempat kerja sebelumnya (SDK Nanggulan), kepala sekolah juga menyampaikan kebijakan tetap 6 hari sekolah, rencana kegiatan sekolah tahun ajaran 2017-2018, dan berbagai harapan proses pendidikan di Bonoharjo. Banyak kegiatan untuk memupuk iman anak yang telah diagendakan, diantaranya adalah misa awal tahun ajaran, membaca kitab suci setiap kelas, kegiatan adven, natalan dan paskahan bersama, rekoleksi, ziarah, doa rosario, dan lain-lain.

Suasana bincang-bincang Kepsek SDKB dengan guru dan komite (dok. Suyono)

Disampaikan pula bahwa pada tahun ajaran baru ini murid Playgroup St. Theresia Lisieux berjumlah 16 anak (masih ada 1 anak yang kemungkinan akan mendaftar lagi). Pada jenjang TK terdapat 35 anak dan SD sebanyak 89 anak. Mengenai jumlah tersebut, Sulistya yang juga seorang penulis Buku Bahasa Jawa SD (Ayo Sinau Basa lan Budaya Jawa), menargetkan bahwa ke depan jumlah murid SDKB harus bisa melebihi 100 anak.

Komite juga berharap agar berbagai pengalaman kepala sekolah dari tempat kerja sebelumnya, misalnya di bidang kebudayaan/kerawitan, bisa diterapkan di SDKB. Penajaman programasi visioner dan transparasi manajemen sekolah perlu selalu dibangun. Semoga Stasi Bonoharjo makin menjadi pusat pendidikan yang unggul dan terpercaya!

Surat Gembala KAS Menyambut AYD 2017

Pada Ekaristi Sabtu (15/7) petang di Gereja Maria Mater Dei Bonoharjo,  Romo Paulus Susanto, Pr. membacakan Surat Gembala dari Mgr. Robertus Rubiyatmoko dalam rangka menyambut Asian Youth Day (AYD) ke-7 yang puncaknya akan dilaksanakan di Yogyakarta (2-6/8). Dalam kotbahnya, Romo Santo juga menambahkan agar kita proaktif dalam menyambut dan menyukseskan AYD 2017.  Berikut isi dari Surat Gembala tersebut:

 

Ajakan Menyongsong “ASIAN YOUTH DAY VII” di Keuskupan Agung Semarang

(Disampaikan pada hari Sabtu/Minggu, 15/16 Juli 2017)

 

Para Rama, Bruder, Suster, Frater dan Saudara-saudari, seluruh umat katolik di Keuskupan Agung Semarang yang terkasih. Berkah Dalem. Bagaimana kabar Anda? Semoga selalu dalam keadaan sukacita dan berpengharapan.

Pada tanggal 2 sampai dengan 6 Agustus 2017 nanti, kita akan menjadi tuan rumah untuk peristiwa besar dan bersejarah, yaitu AYD atau “Asian Youth Day” ke-tujuh (Hari Orang Muda Asia Ke-7). Sebelumnya, yakni tanggal 30 Juli sampai dengan 2 Agustus 2017, para peserta AYD akan live in atau tinggal bersama umat di 11 keuskupan di Indonesia. Setelah AYD, yaitu tanggal 6-9 Agustus 2017, para pembina orang muda Asia masih akan melanjutkan pertemuan di Pusat Pastoral Sajaya Muntilan.

Dalam rangka menyambut AYD ke-7 ini, paroki-paroki, kampus-kampus, dan komunitas-komunitas, sudah menggelar estafet salib AYD dan menggerakkan umat dengan berbagai kegiatan. Sekarang, tibalah saat puncak, yaitu berkumpulnya 2000 (dua ribu) orang muda Katolik di Keuskupan Agung Semarang, khususnya di kota Yogyakarta. Mereka berasal dari 19 negara se-Asia, termasuk Indonesia. Akan hadir pula para Uskup dari negara-negara Asia, termasuk para Uskup seluruh Indonesia.

Menghadapi peristiwa tersebut, selain mempersiapkan diri menjadi tuan rumah yang baik, kita juga menyadari betapa Tuhan mencintai dan memiliki rencana yang indah. Kita dipercaya menjadi tuan rumah “Asian Youth Day” ketujuh, tepat setelah kita mencanangkan “Rencana Induk Keuskupan Agung Semarang 2016-2035”. Kenyataan ini membuat kita merenung sejenak. Mengapa Tuhan mempercayakan AYD ke-7 ini kepada kita? Salah satu jawabannya ialah, bahwa Tuhan ingin kita melaksanakan RIKAS 2016-2035 dengan lebih serius, yaitu dengan lebih memberikan kepercayaan kepada orang muda, sebagai generasi pengemban tanggung jawab perkembangan Gereja.

Dalam pemikiran seperti ini, “Asian Youth Day” ketujuh menjadi anugerah yang besar bagi Gereja Keuskupan Agung Semarang. Dengan “Asian Youth Day” ketujuh ini, Tuhan mau menyemangati kita agar menjadi Gereja yang bermasa depan cerah. Mau tidak mau, sebagai ungkapan syukur atas masa depan yang cerah itu, kita mesti menaruh kepercayaan besar kepada generasi muda. Kita mempersiapkan orang-orang muda ini mulai sekarang, agar mereka mengalami pembinaan yang berjenjang dan berkelanjutan sehingga mereka bergembira untuk menyambut estafet tanggungjawab perutusan.

Sebagaimana Injil hari ini, kita hendaknya menjadi tanah yang subur bagi pertumbuhan Gereja dengan cara membina generasi muda. Oleh karena itu, pada kesempatan ini saya mengajak para imam dan para orang tua pengemban tanggungjawab Gereja, agar bekerja sama dengan orang-orang muda. Bersama orang muda, kita kembangkan aneka bentuk perutusan yang sesuai dengan amanat RIKAS demi terwujudnya masyarakat yang memiliki budaya kasih. Hal ini cocok sekali dengan tema AYD ke-7: “Joyful Asian Youth! Living the Gospel in Multicultural Asia” (Orang muda Asia yang penuh sukacita menghidupi Injil di Asia yang memiliki aneka budaya). Suka cita Injil hendaknya mengobarkan hati dan budi kita, agar kita lebih mengasihi budaya dan pergaulan kita di tengah masyarakat yang majemuk ini.

Akhirnya saya mengajak para Rama, Bruder, Suster, Frater dan Saudara-saudari, seluruh umat katolik di Keuskupan Agung Semarang, untuk mendoakan dan mendukung sepenuhnya “Asian Youth Day” ketujuh, dengan antara lain berpartisipasi dalam Misa Akbar AYD pada tanggal 6 Agustus 2017 di Lapangan Adisucipto Yogyakarta. Semoga AYD ke-7 ini menjadi bagian dari rencana Tuhan yang indah bagi keuskupan kita. Mari bersemangat dan bersuka cita, karena Tuhan mengasihi kita. Berkah Dalem.

 

Semarang, 7 Juli 2017

† Robertus Rubiyatmoko
Uskup Agung Semarang

 

 

 

Ingin tahu lebih banyak tentang event dahsyat itu?

http://asianyouthday.org/