Memberi Berkat di Tanah Leluhur

Pada Kamis (13/7/2017) telah ditahbiskan enam imam baru dari Ordo yang didirikan oleh Santo Ignatius, yaitu Serikat Yesus (SJ). Salah satu diantaranya adalah Romo Gerardus Hadian Panamokta, SJ (Romo Okta). Sosok yang gagah dan ganteng ini tanpa disangka bisa hadir dan menghunjukkan Ekaristi Minggu di Gereja Maria Mater Dei Bonoharjo, bertepatan dengan Pesta Yesus Menampakan Kemuliaan-Nya (6/8).

Romo Okta menyambut anak-anak untuk memberikan “Komuni Bathuk”

Bermula dari pertemuan tidak sengaja antara Romo Okta (waktu itu masih diakon) dengan Romo Yohanes Wicaksono, Pr saat mengamen dana pembangunan gereja Bonoharjo di Paroki Blok B Jakarta. Singkat cerita, akhirnya diketahui bahwa Romo Okta ternyata memiliki tanah leluhur di Bonoharjo. Romo Okta merupakan putra dari Yohanes Kayat dan Ibu Pur yang berasal dari Yogyakarta. Lebih spesifik lagi, sang ayah berasal dari Cumethuk, Kedungsari (Lingkungan St Bacillius, Bonoharjo) dan sang ibu berasal dari Tamansari, Paroki Pugeran. Yohanes Kayat merantau ke Jakarta sejak tahun 1984 dan membangun keluarga di sana.

“Ketika hari ini Yesus menampakkan kemuliaan-Nya. Hari ini Romo Okta juga menampakkan dirinya di Bonoharjo.” kata Romo Wicak. Dalam homilinya, Romo Okta menyampaikan bahwa kita diundang Tuhan untuk menjadi mulia. Untuk itu diperlukan dua hal, yaitu restu dan dukungan. Bacaan Injil menceritakan Yesus mendapat restu dari Allah Bapa (“Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan”). Restu adalah undangan untuk mencicipi kemuliaan-Nya. Dalam kehidupan sehari-hari, hal ini bisa dimaknai dalam bentuk restu dari orang tua, sesepuh, atau para leluhur. Sejak kecil Romo Okta selalu mendapat restu dari kedua orang tua dengan tanda salib di dahi setiap akan berangkat sekolah. Ia pun mengajak keluarga di Bonoharjo untuk mempraktikkan hal tersebut.

Yang kedua adalah dukungan. Dalam Injil dikisahkan pula Yesus bertemu dengan Nabi Musa dan Elia. Kita tahu bahwa merekalah tokoh dan pemimpin pembebasan Bangsa Israel dari perbudakan. Dukungan dari semua pribadi menjadi penting untuk mencicipi dan merasakan kemuliaan Tuhan. “Kita harus selalu memohon restu dari Tuhan dan leluhur, serta dukungan dari orang lain” simpul Romo Okta yang mendapat tugas perutusan perdana di SMA Kolese Gonzaga, Jakarta Barat.

Umat memberikan ucapan selamat atas sakramen imamat

Di akhir Ekaristi, Agapitus Slamet (Ketua Dewan Stasi) memberikan kata sambutan berisi ucapan selamat dan paparan kondisi umat Bonoharjo. Acara dilanjutkan dengan sepatah kata dari Yohanes Kayat mewakili keluarga. Romo Okta juga menambahkan bahwa pemberian nama dari orang tua mengandung makna mendalam. Gerardus merupakan nama santo yang dirayakan bertepatan dengan bulan kelahirannya (Gerardus dari Mayella, 16 Oktober). Hadian berasal dari kata ‘Hadiah Tuhan’. Sedangkan Panamokta terdiri dari dua kata, yaitu Panam (‘Delapan Enam’, tahun lahir 1986) dan Okta (‘Oktober’, bulan kelahiran). Ekaristi ditutup dengan ajakan Romo Wicak untuk mensyukuri anugerah ini dengan pesta bersama di halaman gereja; Pesta Sopi (tipis tur rata, soto sapi).

Suasana akrab pesta “SOPI”

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s