Kemeriahan Pemberkatan dan Peresmian Kapel St. Yusuf Sukoreno

Minggu pon, 23 April 2017 menjadi peringatan penuh syukur bagi seluruh umat khususnya umat wilayah St. Yusuf Sukoreno. Umat separoki Wates berkumpul untuk mengikuti serangkaian kegiatan peresmian dan pemberkatan Kapel St. Yusuf Sukoreno setelah kurang lebih 1,5 tahun direnovasi.

Kegiatan peresmian dan pemberkatan dikemas dengan sangat meriah. Tepat pukul 10.00 WIB perarakan misa memasuki Kapel menjadi penanda dimulainya acara. Harmonisasi dan kepaduan suara OMK Stasi Bonoharjo turut mengiringi perarakan dan misa. Misa konselebrasi pemberkatan Kapel dipimpin oleh Mgr. Blasius Pujo Raharjo, Pr. Uskup Emiritus Ketapang; Rm. Supriyanto, Pr. Romo Paroki Santa Maria Banyumanik, Semarang; Rm. Yoseph Suyatno Hadiatmojo, Pr yang saat ini bertugas di St. Petrus Kentungan sekaligus aktivis FPUB Somohitan; dan Romo Paroki Wates, Rm. Paulus Susanto. Konselebrasi empat Romo membuat misa menjadi meriah sebelum diakhiri dengan pemberkatan Kapel dengan air suci dan penandatanganan secara simbolis oleh Mgr. Pujo.

Seusai misa, Rm. Yoseph Suyatno yang akrab dipanggil dengan Romo Yanto mengajak umat untuk mengucap syukur kepada Tuhan dan berterima kasih kepada para nenek moyang yang telah menggagas berdirinya kapel. Sebagai salah satu wujud ucapan terima kasih, umat memberikan kenangan-kenangan berupa wayang Semar kepada Mgr. Pujo dan wayang Kresna untuk Romo Yatno. Tokoh semar dikenal karena mengayomi, adil, dan bijaksana. Walaupun berkulit hitam, Kresna dikenal dengan sifat ramah, mudah bergaul, supel, banyak kawan, dan suka bercanda (humor) sesuai karakter Romo Yatno.

Acara semakin meriah dengan tampilnya Koor dari SD Kanisius Wates, Jatilan dan Angguk dari SD Kanisius Bonoharjo, serta nyanyi tunggal. Sambil menikmati hiburan, umat disuguhi soto, bakso, dan beberapa snack.

Puncak acara sekaligus hiburan penutup digelar pertunjukkan wayang semalam suntuk dengan lakon “Pendawa Mbangun Praba Suyoso”. Acara tersebut dihadiri secara khusus oleh GBPH Prabukusumo sekaligus meresmikan Kapel St. Yusuf Sukorena.

Selamat dan proficiat kepada seluruh umat wilayah St. Yusuf Sukoreno.

 

Terima kasih kepada beberapa narasumber maupun pengambil gambar Mbak Dwi Susanti, Pak Yoyok, dan Pak Kiswanto. Berkah Dalem…

 

Advertisements

Renungan JUMAT AGUNG

Dalam renungan kali ini, saya akan menceritakan sebuah kisah berjudul “Harimau dan Anaknya”. Sebagaimana judulnya, ada dua tokoh utama dalam cerita ini, yaitu harimau dan anak harimau. Saat saya bercerita, marilah kita menempatkan diri kita sebagai si anak harimau. Sementara itu, tempatkanlah Yesus sebagai Harimau.

Di hutan yang lebat, hiduplah seekor harimau. Ia adalah penguasa hutan tersebut. Semua binatang tunduk padanya. Ia sangat gagah dan berwibawa, sehingga sangat dihormati oleh semua binatang di hutan. Semua binatang bangga memiliki pemimpin seperti si harimau. Situasi hutan menjadi sangat damai, karena sang harimau selalu bisa mengusir binatang-binatang buas dari luar hutan yang ingin membuat kekacauan di hutan. Sang harimau tak tertandingi oleh binatang manapun. Tak ada satu binatang pun yang bisa melukainya.

Di lain pihak, sang harimau ini mempunyai seekor anak yang masih kecil. Harimau kecil ini sangatlah nakal. Ia paling sering bermain permainan berburu dengan sang ayah. Harimau kecil ini berperan sebagai pemangsa dan sang ayah berperan sebagai mangsa. Meskipun masih kecil, harimau kecil ini mempunyai kuku dan gigi yang tajam. Maka, dalam permainan ini berkali-kali ia melukai ayahnya.

Sang harimau kini penuh luka karena kenakalan anaknya. Kegagahan dan kewibawaannya mulai berkurang karena luka-lukanya. Bahkan secara fisik, ia mengalami sakit luar biasa karena luka itu. Anaknya, harimau kecil tidak sadar akan penderitaan ayahnya dan terus saja bermain dan melukai ayahnya. Dan sang ayah tidak sekalipun membalas perbuatan anaknya. Akhirnya karena terlalu banyak luka, Sang harimau jatuh sakit dan mati. Dan si harimau kecil mulai sadar bahwa kematian ayahnya adalah karena dirinya. Sang Raja Harimau yang tak terkalahkan oleh binatang buas manapun, kini mati di tangan anaknya, seekor harimau kecil.

Marilah kita hening sejenak, kita renungkan pengalaman hidup kita masing-masing sebagai anak yang sering menyakiti bapaknya sebagaimana kisah saya tadi.

Sekali kita berbohong, berakibat pada satu tamparan di wajah Tuhan Yesus.

Sekali kita marah, berakibat pada satu ludahan di wajah Tuhan Yesus.

Sekali kita mencuri, berakibat pada satu tendangan di perut Tuhan Yesus.

Sekali kita melalaikan tugas, berakibat pada satu cambukan di punggung Tuhan Yesus.

Sekali kita egosi dan mau menang sendiri, berakibat pada tusukan mahkota duri di kepala Tuhan Yesus.

Sekali kita berbuat kasar dan menyakiti orang lain, berakibat pada satu tujukan paku di tangan Tuhan Yesus.

Sekali kita tidak hormat pada orang yang lebih tua, berakibat pada satu tusukan paku di kaki Tuhan Yesus.

Sekali kita berkata buruk tentang orang lain, berakibat satu tusukan tombak di perut Tuhan Yesus.

Dan … akhirnya …

Sekali kita berdosa, berakibat pada kematian Tuhan Yesus.

 

dari Power Ranger Biru

untuk Yesus Kristus sang Superhero Sejati

Minggu Palma di Stasi Bonoharjo

 

         

 

Ada yang berbeda pada perayaan Minggu Palma di Gereja Bonoharjo. Panitia Paskah 2017 dengan ketua umum FX Rismanto dari wilayah Srikayangan berusaha membuat perayaan Minggu Palma berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Pada perayaan sebelumnya, sebelum masuk gereja umat membawa daun palma (lambang kebebasan) dan berjalan mengelilingi gereja. Pada perayaan Minggu Palma (Minggu, 9/4), umat menanti di pinggir jalan jalur yang dilalui pemimpin misa, Romo Yohanes Wicaksono Pr. Dengan menggunakan gerobak yang ditarik dan didorong OMK Stasi, Romo Wicak “sukses” memerankan tokoh Yesus masuk kota Yerusalem. Dalam homilinya, romo Wicak menekankan tiga hal penting dalam hidup. Pertama, jangan sampai rasa atau perasaan menguasai hidup kita. Kedua, umat katolik harus menjadi panutan dalam membangun ketenteraman. Umat katolik juga diharapkan menjadi manusia yang selalu berpikir positif dan menjadi pribadi-pribadi yang sabar. Ketiga, sebagaimana namanya, misa suci adalah perayaan suci. Apapun situasinya, umat diharapkan menjaga kesucian misa. “Diusahakan setiap mengikuti misa kudus datangnya tidak telat”, demikian pesannya.

Jadwal Pekan Suci 2017 Gereja Bonoharjo

Saudara yang dihasihi Tuhan, berikut kami informasikan jadwal perayaan pekan suci tahun 2017 di Gereja Bonoharjo.
Jadwal Misa

Seusai perayaan ekaristi Kamis Putih, umat dimohon partisipasinya dalam tuguran. Adapun jadwal tuguran adalah sebagai berikut.

Pukul 18.45 - 19.30     Kelompok Kerahiman Ilahi
      19.30 - 20.00     Lingk. St. Maria Fatima
      20.00 - 20.30     Lingk. St. Yakobus
      20.30 - 21.00     Lingk. St. Maria Regina
      21.00 - 21.30     Lingk. St. Yusup
      21.30 - 22.00     Lingk. St. Christophorus
      22.00 - 22.30     Lingk. St. Basilius
      22.30 - 23.00     Lingk. St. Stephanus
      23.00 - 23.30     Lingk. St. Anna
      23.30 - 00.00     Lingk. St. Petrus
      00.00 - 00.30     Lingk. St. Paulus
      00.30 - 01.00     Lingk. St. Mikael
      01.00 - 01.30     Lingk. St. Agustinus
      01.30 - 02.00     Lingk. St. Maria Ratu Damai
      02.00 - 02.30     Lingk. SPM Ratu Rosario
      02.30 - 03.00     OMK Stasi Bonoharjo

Demikian informasi seputar jadwal Perayaan Pekan Suci 2017, semoga bermanfaat.
Selamat mempersiapkan Paskah 2017. Berkah Dalem Gusti….